DAKWAH BIL HAL
(Suatu Pengalaman Dakwah Terhadap Golongan Remaja di Indonesia)
PENDAHULUAN
Sebelum kita membicarakan agama dan dakwah pada remaja, kiranya lebih baik kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan remaja? Sekumpulan pertanyaan yang kita ajukan terhadap remaja: Bagaimana dinamika jiwa remaja, apakah problem-problem yang melanda bagi kehidupan remaja?
Tanpa mengetahui masalah-masalah tersebut, teramatlah sulit memahami sikap dan tingkah laku para remaja. Berapa banyak keluhan yang berkepanjangan dari orang tua. Bahkan bersedih hati, kecewa bercampur frustasi di mana faktor penyebabnya adalah kerana anaknya yang telah remaja menjadi keras kepala, sukar diatur, mudah tersinggung, sering membuat masalah dan bersifat melawan.
Bahkan ada orang tua remaja tersebut yang bingung atau panik memikirkan kelakuan anak-anaknya yang telah remaja, seperti sering bertengkar, tingkah laku yang menentang adat istiadat, budaya dan norma-norma ajaran agama.
Di samping itu, tidak sedikit pula jumlahnya remaja-remaja yang merasa tidak mendapat tempat dalam masyarakat dewasa, bahkan di antara mereka ada yang merasa sedih dan penuh penderitaan dalam hidupnya. Mereka merasa tidak dihargai dan merasa tidak disayangi oleh orang tua, bahkan merasa diremeh dan direndahkan dirinya. Pada fikirannya timbul problematika baru, mereka cuba mencari jalan sendiri untuk membela dan mempertahankan harga dirinya, maka ditentangnya segala nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat mereka ingin hidup lepas, bebas nilai dan ikatan, maka di kota-kota besar timbullah kelompok pemabuk, peradat, hippies dan lainnya. Segala persoalan dan problematika yang terjadi pada remaja itu sebenarnya saling bertumpang tindih dan berkaitan dengan usia yang mereka lalui dan tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan di mana mereka hidup.
Apabila seseorang remaja telah merasa dapat bertanggungjawab untuk dirinya sendiri, mampu mempertanggungjawabkan setiap sepak terajang dan dapat menerima falsafah hidup yang terdapat dalam masyarakat di mana ia hidup, maka waktu itu ia telah dapat dikatakan dewasa.
Masalah yang dihadapi remaja di Indonesia, biasanya berhubungan dengan kehidupan remaja itu dalam keluarga.
Bagi kita kaum muslimin sangat menarik untuk mengkaji dan sebagai rumusan tujuan bina remaja yang berkualitas seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw dari Abu Hurairah r.a:
Sabda Rasulullah saw: “Ada tujuh golongan manusia yang Allah akan menaungi mereka di hari kiamat, dalam naungannya pada hari yang tiada naungan kecuali naungannya iaitu pemimpin yang adil dan anak muda yang tumbuh atau menjadi dewasa dalam keadaan selalu mengabdi kepada Allah swt dan seorang yang hatinya tergantung di masjid dan dua orang yang kasih mengasihi mereka berkumpul kerana Allah dan berpisah kerana Allah dan seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang perempuan berpangkat atau bangsawan lagi cantik pula tetapi ia menolak dan berkata: Sesungguhnya aku takut pada Allah dan seorang yang selalu ingat kepada Allah di kala berkhalwat hingga kedua matanya mencucurkan air mata.” (HR Bukhari dan Muslim)
DAKWAH DI KALANGAN REMAJA
Pembinaan remaja muslim yang berkualiti merupakan salah satu tugas
yang mutlak diperlukan dalam pembinaan umat muslim. Remaja mempunyai potensi yang tinggi, merupakan modal yang tidak ternilai harganya untuk membentuk masyarakat yang islami.
Sesungguhnya islam tidak akan membiarkan pemeluknya tertidur
seperti tertidurnya Ahli Kahfi sebab islam adalah agama yang dinamis, hidup dan bebas.
Berdasarkan konsep ini, maka akan terus bermunculan manusia
manusia yang mengadakan pembaharuan terhadap umatnya. Allah sentiasa mengutus mujaddid baik secara individu, kelompok, institusi atau gerakan yang terkadang datang dari kelompok alim ulamak, pendidik, panglima, pemimpin yang soleh atau khalifah yang bijak yang akan membangunkan umat dari tidurnya dan menghidupkan generasi islam.
Kebangkitan menurut Dr. Qardhawi dalam bukunya ‘Humumu al-muslim al-mu’ashir’ berkata: “Kebangkitan ini merupakan kebangkitan akal, sekaligus kebangkitan emosi, perasaan dan sikap perbuatan. Kebangkitan menjadikan umat Islam mengenal dan menerima nilai-nilai berharga yang dibawa oleh Islam yang Hanif ”
Sesungguhnya masa depan itu berada dibawah kekuasaan Allah,
dapat kita prediksikan, kemudian kita pastikan akan begini dan begitu. Berdasarkan gejala-gejala yang muncul. Insya-Allah jika dakwah tetap berjalan sesuai dengan yang digariskan Allah dan sunnah Rasulullah saw akan dapat menyingkirkan kendala yang menghadangnya serta dapat memecahkan segala permasalahan yang meliputinya.
Seseorang tidak mungkin membendung dan melawan krisis akhlak dan
menyelesaikan masalahnya dengan kacamata Islam secara individual, sebab potensi manusia kecil bila bercerai-berai dan akan besar jika berkelompok. Orang akan lemah secara individual dan akan kuat secara kolektif.
Oleh kerana itu, meskipun Musa a.s adalah orang yang kuat, percaya,
amanah, masih berdoa ke hadrat Allah agar diberikan keteguhan dan kekuatan dengan dibantu saudaranya Harun a.s.
1. هرون أخي.اشدد به أزري. وأشركه في أمري. كي نسبحك كثيرا ونذكرك كثيرا
“Harun saudaraku, teguhkanlah dengan Dia kekuatanku dan jadikanlah Dia sekutu dalam urusanku supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau dan banyak mengingati Engkau ”. (Q.S.Thaha: 30-34)
Mencuba mengaitkan dakwah dengan masyarakat yang semakin moden tanpa melakukan pemahaman dan penyegaran kembali pengertian dakwah akan membawa kita kepada normative dan bahkan apologetik. Pemahaman dakwah selama ini, baik pada tingkat akademik mahupun praktis lebih terpusat pada satu sisi atau dimensi sahaja, iaitu dakwah sebagai penyampaian kebenaran dimensi kerisalahan semata. Padahal ada dimensi lain yang Allah sendiri tegaskan dalam firman-Nya pada surah Al-Anbiya’ ayat 107:
"وماأرسلنك إلا رحمة للعلمين"
“Tidak kami utus engkau (wahai Muhammad) kecuali untuk rahmat semesta alam”.
Disamping itu dakwah sering dikonorasikan pada pengertian tabligh dalam makna sempit.
DUA DIMENSI BARU
Dimensi kerisalahan: Memahami dakwah dari Dimensi Kerisalahan (Al- Maidah 67 dan surah Al- Imran 104) bererti meneruskan tugas Rasulullah untuk menyeru agar manusia lebih mengetahui secara benar, memahami menghayati (mengimani) dan mengamalkan Islam sebagai pandangan hidup dan pedoman tingkah laku.
Oleh itu, dakwah yang dimaksudkan sebenarnya mengarah pada perubahan perilaku manusia pada peringkat individu maupun kelompok ke arah perilaku yang semakin Islami. Demensi kerisalahan dakwah, dengan demikian mencuba menubuhkan kesedaran dari dalam individu atau masyarakat tentang kebenaran nilai dan pandangan hidup Islam sehingga terjadi proses internalisasi nilai Islam sebagai intisari nilai hidupnya. Dengan ungkapan lain, kegiatan dakwah bererti proses mengkomunikasikan atau menentraksikan nilai-nilai Islami.
Melihat dakwah dari demensi kerisalahannya kita dapat simpulkan
bahawa:
1. Islam merupakan sumber nilai
2. Dakwah merupakan proses alih nilai.
Dimensi Kerahmatan. Dengan melihat Firman Allah ( Anbiya, 107), maka kita akan melihat dimensi kerahmatan dakwah, yaitu mengaktualisasikan atau merealisasikan Islam sebagai Rahmat (dalam hidup sejahtera, bahagia dan sebagainya) bagi umat manusia, manakala dalam dimensi kerisalahan dakwah lebih bercorak mengamalkan Islam secara keseluruhan, maka dalam kerahmatan ini dakwah bererti mewujudkan Islam dalam kehidupan dengan konsep kerahmatan ini memang dituntut bagi umat Islam (Da’ie) untuk membuktikan validitas Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin. Dengan demikian dakwah berupaya menyebarkan nilai-nilai normatif Islam (dalam Al-Quran dan Sunnah) dan menjadi konsep kehidupan yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari- hari.
1. Menatap dakwah dari dimensi kerahmatannya dapat kita simpulkan bahawa:
Islam merupakan sumber konsep.
2. Dakwah sebagai operasionalisasi ajaran Islam (Aktualisasi dan kebenaran mutlak Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin, sebagai sumber konsep).
DAKWAH MULTIDIALOGIS
Untuk dapat berlangsungnya interaksi maka pesan dakwah harus dikemas sebaik mungkin bagi mencakupi pelbagai aspek kehidupan manusia baik pada peringkat maupun peringkat komunitas, dalam kaitan tersebut maka kegiatan dakwah merupakan aktiviti yang bersifat multidialogi dan kerananya akan dikenal sebagai “Jalur” dialog dakwah sesuai dengan pesan yang disampaikan.
Pada tingkat individu misalnya, dakwah berupa:
1. Dialog informasi( pengetahuan)
2. Dialog nilai
3. Dialog Ide, gagasan atau konsep
4. Dialog Estetik(seni budaya)
5. Dialog emaliah
6. Dialog aqidah dan spiritual dan sebagainya.
Pada tingkat komunitas misalnya dakwah berupa:
1. Dialog ekonomi
2. Dialog sosial
3. Dialog budaya dan seterusnya.
Kalau kita mencoba melakukan “pemotretan” masyarakat di masa depan ada tiga kecenderungan utama yang akan dan mulai terjadi dalam masyarakat secara langsung mahupun tidak langsung akan mempengaruhi pada kegiatan dakwah Islamiah. Ketiga-tiga kecenderungan di maksudkan ialah:
1. Loncatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iftek)
2. Proses ledakan informasi
3. Proses Globalisasi di berbagai aspek kehidupan
Ketiga-tiga hal tersebut saling kait mengait dan akan memberi perubahan wajah masyarakat yang amat berbeza dengan keadaan sekarang. Perubahan tersebut oleh sebahagian pakar bahkan dilukiskan sebagai suatu perubahan yang sangat cepat. Perubahan yang kita hadapi, baik sebagai bangsa maupun umat Islam.
Tulisan ini hanya akan mengupas kecenderungan perubahan masyarakat secara “ad-hock” terutama yang berkaitan dengan permasalahan yang harus dihadapi oleh umat Islam. Ketiga-tiga kecenderungan di atas akan merubah wajah masyarakat termasuk umat Islam menjadi masyarakat yang mempunyai ciri-ciri berikut:
Pertama: Teknologisasi kehidupan, masyarakat teknologis adalah masyarakat yang semua urusan dan kegiatan harus dikerjakan menurut tekniknya masing-masing yang cenderung sudah baku (standernised) polar kehidupan yang teknologis membawa konsekuensi nilai iaitu makin dominannya pertimbangan efisiensi, produktivitas (fizik) dan yang sejenis yang umumnya menggambarkan suatu ciri-ciri materialistik. Pertanyaan yang timbul dalam masyarakat teknologis? Interpretasi nilai agama yang bagaimana dapat kita tawarkan masyarakat teknologis tersebut ? Inilah pertanyaan–pertanyaan “pekerjaan rumah” bagi umat islam yang selama ini belum secara serius dikerjakan .
Kedua: Kecenderungan perilaku masyarakat yang makin “fungsional”. Yang dimaksudkan masyarakat fungsional adalah masyarakat yang masing-masing warganya sekadar menjalankan fungsinya dalam semua aspek kehidupan. Hubungan sosial hanya terjadi kerana adanya kegunaan atau fungsi tersebut, ertinya hubungan antara manusia lebih diwarnai oleh motif-motif kepentingan (fungsional) yang biasanya berkonotasi fisik material. Dalam masyarakat yang demikian, nilai–nilai agama kurang mendapat (pasaran ) kerana dianggap tidak fungsional. Persoalan langsung bagi kita ialah bagaimana kita dapat menyebarkan islam dan kemudian menawarkan ke tengah masyarakat sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang “fungsional” yang dibutuhkan.
Ketiga: Masyarakat padat informasi. Dengan makin berkembangnya teknologi informasi, maka masuknya masyarakat dalam era informasi merupakan hal yang tak teralakkan. Ada beberapa hal yang berkenaan dengan masyarakat informasi ini, yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan dakwah Islamiah. Pertama, makin sentralnya kedudukan informasi pada pelbagai aspek kehidupan. Informasi merupakan (komoditas) atau “zodal” ekonomi, politik ataupun sosial. Mereka yang menguasai informasi bererti kelompok yang “menguasai” kehidupan. Hal yang demikian juga bersangkutan dengan bidang dakwah. Konsekuensi yang perlu kita fikirkan ialah makin pentingnya kedudukan “dialog informasi” sebagai salah satu bentuk dakwah dengan pensyarikatan. Kedua, masuknya era informasi bererti makin mudahnya berbagai tata nilai dan budaya asing memasuki masyarakat kita. Kecenderungan yang ada ialah makin berkembangnya tata materialistik, hedonistik, rasionalistik, sekularistik dan sebagainya, yang pada hakikatnya merupakan permasalahan dakwah yang harus dihadapi.
Keempat: Kehidupan yang makin sistamik dan terbuka. Salah satu ciri masyarakat moden ialah sepenuhnya berjalan dan diatur oleh sistem dinamika. Kehidupan sosial kita diatur oleh sistem, bukan diatur oleh orang lain Selanjutnya sistem yang mengatur tersebut tidak hanya bersifat lokal, nasional atau regional, akan tetapi juga bersifat global. Dalam masyarakat yang demikian, maka masyarakat di pelbagai negara menjadi suatu masyarakat yang “terbuka” terhadap pengaruh luar dari mana pun. Di masa mendatang, pelbagai kekuatan asing (baik kekuatan sosial, politik, ekonomi, teknologi, maupun budaya) akan ikut menentukan bagaimana dinamika masyarakat kita berlangsung.
Kelima: Individualisasi kehidupan beragama. Dalam konsep modenisasi tersebut memang agama tidak menduduki lagi peranan yang layak atau bahkan tersisih. Kalaupun agama dilakukan, semata-mata masalah individu belaka, agama dipandang hanya menyangkut masalah ruhaniah (transcendental) saja, sedang terhadap kehidupan menyangkut sehari-hari agama tidak lagi mempunyai kompetan untuk mengatur.
Minggu, 15 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar